Memahami “Lompatan” Aziz

MEMAHAMI “LOMPATAN” AZIZ

Riba adalah Haram

Karakter Tali (Karya Abd. Aziz Ahmad, 2002)

Kehadiran buku Ragam Karakter Kaligrafi Islam karangan Drs. Abd. Aziz Ahmad, M.Pd., merupakan kabar gembira yang patut diberi sambutan. Ini berarti satu lagi ‘saudara baru’ di antara jajaran buku-buku kaligrafi yang akan memperkaya laci perpustakaan kita.

Berbeda dengan buku-buku kaligrafi yang umumnya lebih mengenalkan gaya-gaya ‘murni’, buku Aziz ini muncul dengan ‘melawan’ cara-cara yang ditempuh buku-buku tersebut.

Saya tahu persis, Aziz adalah seorang khattat yang cukup piawai menorehkan fan Naskhi, Sulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Riq’ah dan Kufi. Akan tetapi dalam buku susunannya ini, ia seakan mengabaikan potensinya dan mengajak kita melanglang ke dunia lain, dunia yang tidak kenal kompromi dengan segala ikatan dan aturan.Dunia yang acuh beibe dengan rumus-rumus dan grammar. Aziz sengaja tidak melirik pada kaidah-kaidah al-khat al-mansub (kaligrafi berstandar) pada bab-bab bahasannya. Ia menonjolkan cara lain. Ia mulai bersikap aneh.

“Keanehan” karya-karya Aziz, tampak pertama, pada latar belakang lukisannya yang menggambarkan suasana alam dongeng. Burung-burung, cecak, kodok, ular, ikan, dan rupa-rupa satwa yang tidak pernah ada dalam kamus animasi. Kedua, ini merupakan keunggulannya, gerak hayati alam khayalannya- yang wallahu a’lam dapat ide dari mana- mendapat polesan ayat-ayat Alquran, hadis atau kaul hikmah dengan pola kaligrafi yang unik pula, menambah suasana lebih syahdu dan merambah pada makna yang batini.

Abdul Aziz Ahmad sangat yakin, bahwa kaligrafi Arab dikenal plastis bisa terus digali dalam rupa-rupa karakter yang tidak peranah ada habis-habisnya. Bisa berwujud karakter tajam, karakter api, karakter air, karakter kurus-gemuk, karakter daun dan lain-lain.  Adapun yang dilakukan ini merupakan karya kreatif seorang yang senantiasa haus untuk berburu penemuan-penemuan baru. Hasil ijtihad Aziz adalah cermin ketidakpuasan dengan suasana yang sudah mapan dan terlalu umum.

Suatu hal tidak boleh dilupakan. Yaitu, kita sering menganggap penulisan dengan pola kaligrafi murni yang sekarang berjumlah kira-kira tinggal 7 buah seperti tersebut di atas hukumnya mutlak wajib. Seakan tidak ada ruang tawar-menawar untuk menggunakan gaya dari hasil temuan lain. Padahal, sejarah kaligrafi sendiri sebenarnya adalah sejarah penemuan dan perburuan gaya-gaya. Oleh Habibullah Fada’ili dalam kitabnya Atlas A-Khat wa Al-Khutut (1993) disebutkan bahwa, setiap gaya kaligrafi tunduk sepenuhnya terhadap eksperimen dan modifikasi selama bertahun-tahun sampai terbentuknya pola yang benar-benar sempurna. ****

(Tulisan di atas adalah cuplikan kata pengantar  dari buku “Ragam Karakter Kaligrafi Islam: Mengupas Tuntas Kaligrafi Ekspresi”, 2006 oleh:  Drs. H. Didin Sirojuddin AR, M.Ag. Direktur Lembaga Kaligrafi Alquran “Lemka” Jakarta dan Sukabumi Jawa Barat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s